News 13

Dunia Pendidikan di Dunia yang Terus Berubah

Topik pendidikan yang baik selalu menjadi perdebatan hangat dari masa ke masa, generasi ke generasi. Ini dikarenakan oleh gerakan wajib sekolah bagi seluruh anak adalah bagian dari sejarah baru manusia, yaitu baru pada tahun 1700an masyarakat Eropa menyadari pentingnya sekolah bagi seluruh warganegaranya. Pada masa tersebut, misi sekolah adalah sebagai penyamarataan moral, tatanan sosial, dan kemajuan sebuah bangsa. Untuk mencapai misi tersebut, maka sekolah dibentuk dengan memiliki karakteristik khusus yaitu menerapkan disiplin dengan menempatkan guru sebagai penegak peraturan, pembentukan identitas, dan pembekalan keterampilan agar dapat bekerja setelah lulus. Sekolah semacam ini kemudian dijuluki ‘Pabrik Karakter’, dengan harapan dapat mencetak lulusan yang patuh kepada aturan, memiliki etos kerja yang baik, dan bermoral tinggi. Pembangunan kurikulum pada zaman tersebut, dan seterusnya hingga awal 1900an, adalah jawaban dari misi utama pendidikan di atas.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa ‘Pabrik Karakter’ tersebut memiliki karakteristik sekolah yang masih kita temui di berbagai sekolah di Indonesia, yaitu menganggap siswa sebagai tanah liat yang perlu di bentuk sesuai dengan visi negara sehingga anak tersebut dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan. Dengan metode menghafal dan ujian yang tiada henti, siswa diminta untuk memiliki pemahaman dan pemikiran yang spesifik, yang seragam, demi mendapatkan nilai yang memuaskan.

Pertanyaan di benak pendidik seluruh dunia adalah, apakah metode ini masih cocok untuk dunia yang sangat cepat berubah? Yang didominasi oleh perkembangan teknologi dan globalisasi?

Riset pada tahun 1983 bertajuk ‘Nation At Risk Report’ menyatakan bahwa metode seperti ini membuat siswa sangat sulit untuk memiliki pola pikir yang unik, dan menurunkan potensi kreatifitas mereka. Sedangkan, bila kita melihat pada perkembangan dunia saat ini yang penuh dengan inovasi, kreatifitas dibutuhkan dalam bidang apapun, demi menghadirkan solusi-solusi baru yang akan menghasilkan individu, perusahaan, dan negara yang kompetitif.

Pemikiran-pemikiran kontemporer tentang pendidikan terus bermunculan yang membuahkan prinsip dan tujuan pendidikan yang sangat berbeda dengan ‘Pabrik Karakter’ tersebut. Paolo Freire, pendidik asal Brazil, menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencetak manusia yang merdeka. Merdeka dari kemiskinan, penindasan, diskriminasi, dan merdeka untuk berfikir kritis. Manusia harus bisa merdeka untuk merubah dunia di sekitarnya menjadi lebih baik, dengan berfikir kritis dan berusaha memberikan solusi secara kreatif. Bagaimana caranya? John Dewey memberikan gagasan bentuk baru dari pendidikan:

  1. Mengidentifikasi potensi setiap anak. Beliau percaya bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda dan bila mereka fokus mengembangkan potensi yang mereka miliki, maka mereka bisa memiliki hidup yang memuaskan.
  2. Mendorong karakter ‘hobi belajar’ dengan mengidentifikasikan berbagai permasalahan sehari-hari dan mencari solusinya. Dengan begitu, anak-anak akan melihat pentingnya sebuah ilmu karena dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Latihan penyelesaian masalah dengan memikirkan berbagai isu kehidupan terutama di sekitar mereka. Isu yang mereka alami mungkin dialami juga oleh orang lain, dan dengan menganggap serius isu tersebut, mereka dapat membantu menciptakan sebuah solusi yang tidak hanya berguna bagi mereka tetapi juga masyarakat luas.

Dalam pemikiran kontemporer ini, sangat penting untuk menghubungkan ilmu yang berbentuk abstrak dengan aplikasinya dan kegunaannya yang berbentuk konkret. Terutama pada anak sekolah dasar, sehingga pada saat mereka sudah lebih besar, mereka dapat dengan mudah mencerna konsep-konsep abstrak dan menggunakan ilmu tersebut untuk sesuatu yang berguna, tidak hanya untuk syarat kelulusan.

Berdasarkan paparan di atas, sangatlah jelas bahwa ‘Pabrik Karakter’ memiliki tujuan yang bermanfaat bagi kolektif, bukan individu. Sedangkan pemikiran kontemporer memberikan fokus pada pengembangan individu dan bagaimana masing-masing anggota masyarakat dapat memberikan kontribusi yang maksimal sesuai dengan potensinya dan ikut membentuk negara yang jauh lebih baik. Untuk itu, telah disadari perlunya sebuah revolusi dalam sistem pendidikan, dan revolusi tersebut telah diterapkan di berbagai negara di dunia, salah satunya yang paling sukses adalah di Finlandia.

Bagaimana dengan Indonesia? Ketimpangan pendidikan tentu menjadi tanggung jawab negara. Akan tetapi, bila kita menerapkan pemikiran kontemporer di atas, maka, tanggung jawab pengembangan negara dan masyarakat tidak hanya ada di pundak pemerintah, tetapi pada setiap individu. Karena itu, adalah hak dan kewajiban setiap orang untuk memberikan solusi dan gagasan baru dalam bidang pendidikan, dan menjadikan pendidikan sebagai topik yang penting untuk terus diperbaiki sebagai modal kita bersama untuk tetap relevan di dunia yang terus berubah.

Logo Skoline Baru

Ambil Langkah Pertama Untuk Membimbing
Anak Menjadi Versi Terbaik Dirinya.

Berlangganan weekly newsletter untuk tips, informasi,
dan perkembangan dari dunia pendidikan.